Erham Budi Wiranto
Rabu, 06 Agustus 2008 (catatan diskusi)
Diskusi yang diawali dengan menu vegetarian gado-gado ini memperbincangkan tema The Broken Buddha. Satu hal yang membuat istimewa dari ngobrol-ngobrol ini tentu saja adalah kehadiran Bante Shravasthi Dhamika sebagai penyaji utama.
Buddhist dari Australia yang berusia 50an ini mengaku mulai memeluk Agama Buddha sejak usia 19 tahun. Cukup belia untuk seorang yang melakukan konversi dari membaca buku. Pencariannya tidak berhenti di lembaran kertas, dia hijrah ke Cambodia dan beberapa tempat lain di sekitarnya untuk mendalami Buddha. Merasa kurang puas, dia langsung ke pusatnya, India. Setelah pencarian yang panjang, kini dia tinggal di Singapura dan aktif memberikan ceramah serta menulis buku. Setidaknya sudah 25 judul buku karangannya tersebar hingga ke bumi belahan barat.
Sebelum berpanjang lebar tentang upaya umat Buddha menghadapi dunia terkini, sang Bante terlebih dahulu menggambarkan perkembangan umat Buddha di beberapa negara terutama di Asia seperti Cambodia, Tibet, Singapore, China, Malaysia, Thailand dan (mungkin dia tidak enak hati jika tidak menyebutkan) Indonesia. Meskipun memiliki ekspresi yang bervariasi, namun basis-basis Buddha tersebut dianggap sebagai potensi untuk menghadapi dunia yang terus berubah.
Strategi yang digunakan umat Buddha saat ini adalah berupaya untuk mempergiat kepedulian sosial, dalam arti bahwa umat Buddha harus semakin banyak melibatkan diri dalam berbagai aktifitas yang membawa kedamaian dan kesejahteraan di bumi ini. Kurangnya keterlibatan sosial (the lack of social involvement) diakui oleh sang Bante sebagai salah satu faktor yang bisa melemahkan citra Buddha. Untuk itu beberapa ajaran luhur Buddha harus diaplikasikan terus menerus.
Dari pemaparan dan tanya jawab dalam diskusi tersebut, cukup banyak ajaran Buddha yang diperbincangkan. Saya sangat tertarik ketika sang Bante memaparkan tentang apa yang dia sebut sebagai animal rage. Saya terheran bagaimana Buddha sangat mampu berempati terhadap binatang. Sang bante mengatakan bahwa jika kita tidak mau diperlakukan seperti binatang itu, maka jangan lakukan sesuatu yang buruk pada binatang tersebut. Jangan melukai apalagi membunuh. Tidak hanya itu, sang bante bahkan menekankan etika terhadap tanaman. Umat Buddha diajarkan untuk bersikap santun terhadap tanaman, seperti “jangan usil mematahkan dahan, jangan menginjak tunas tanaman, dan seterusnya.
Menanggapi seorang penanya yang secara filosofis mempertanyakan eskatologi Buddha, bante menegaskan bahwa Buddha lebih sebagai clarification of mind ketimbang concern to God. Selanjutnya Bante juga menjelaskan bahwa salah satu pengaruh buddha yang diakui secara luas adalah dalam tataran filosofi dan psikologi, terutama psikologi. Perkumpulan Yoga merebak di segala penjuru dunia
Hal itu membuka pintu lebih lebar bagi warga dunia untuk lebih mengenal buddha. Buddha semakin banyak dipelajari dan diminati orang karena konsep ajarannya yang dikenal sangat ramah. Bahkan banyak diantara orang yang memilih memeluk Buddha hanya dari membaca buku. Menurut bante, hal ini sangat berbeda dengan Kristen dan Islam yang dikenal sebagai agama yang giat melakukan misi penyebaran agama. Bahkan konservatisme dan pemaksaan masih kerap dilekatkan pada agama misi tersebut. Lebih jauh lagi, bante sempat menyatakan bahwa jika dibandingkan dengan Buddha, maka agama lamanya (kristen) adalah agama yang kurang toleran. Bante memberikan definisi toleran sebagai “saya menyadari bahwa anda berbeda, dan saya menghormati anda beserta perbedaan itu”.
Saya sempat menanyakan satu hal yang sepertinya hampir terlewatkan dalam diskusi tersebut, yaitu tentang relasi antara Agama Buddha dan Negara. Salah satu kasus yang saya angkat adalah penerapan Agama Buddha sebagai agama resmi negara pada periode Tokugawa di Jepang, sekitar abad 16 hingga 19. Sang bante memberikan penjelasan yang cukup memuaskan. Bahkan, dia menambahkan beberapa kasus yang lain termasuk kerajaan-kerajaan Buddha di Indonesia. Dia menegaskan bahwa perkawinan agama dan negara memang mungkin terjadi, namun itu tidak akan mungkin berlangsung lama, cepat atau lambat pasti akan mengalami decline. Sang bante juga menambahkan bahwa umat beragama harus belajar dari kegagalan monatisme katolik serta penerapan agama-negara di manapun. Terbukti bahwa semuanya gagal.
Sebelum diskusi tersebut ditutup, Bante melontarkan kritik pada umat Islam, “Muslim mengeluhkan ketidaktahuan dan kesalahpahaman Barat terhadap Islam, memangnya seberapa jauh muslim bisa memahami agama lain?”